Senyum Pengusir Syaitan

Aku hanyalah manusia biasa yang mempunyai amarah seperti orang kebanyakan. Begitupun didalam rumah tangga yang banyak sekali liku-likunya. Tingkah laku anak-anak yang bermacam-macam dan kadang menjengkelkan adalah sebuah seni peran yang luar biasa. Terkadang akupun sangat emosi menghadapi anak-anak, namun aku tidak pernah menunjukkannya dengan penampakan fisik kepada mereka. Misalnya ketika mengajari matematika kepada anak sulungku yang sangat payah penyerapannya, aku sebenarnya geram dan sangat marah karena menurutku sangatlah mudah tentang matematika. Jika aku marah biasanya aku masuk kekamar dan curhat kepada istri, melihatnya dia tersenyum dan mendengarkan keluhanku maka aku sudah mereda dan bisa kembali mengajari anakku dengan energi yang baru.

Aku selalu menceritakan kebaikan dan kelebihan istriku, apakah aku tidak pernah kesal dan marah kepadanya…? Marah, sayang dan memuji adalah bagian dari kehidupan berumah tangga. Aku juga sering marah, jengkel dan tidak sabar menghadapi istriku. namun itu berlaku ketika aku tidak bertatap muka dengannya, ketika aku sudah bertatap muka dengannya dan dia selalu melempar senyuman khasnya, sudahlah….aku menjadi lumer seperti sebuah es krim yang terjemur matahari. Entahlah apakah ini karena cintaku yang begitu mendalam kepadanya atau memang dialah yang sangat mahir melunakkan hatiku. Maka wajar saja jika selama 16 tahun berjalan pernikahan kami, tidak pernah ada satu haripun di dalam keluarga kami terjadi perang mulut ataupun pertengkaran fisik. Sehingga di manapun kami tinggal entah itu di Tanjung priuk, Pekanbaru dan Tangerang kami selalu mendapatkan predikat “Best romantic family”. Kami juga selalu menjadi tempat curhat tetangga yang sedang mendapat suatu permasalahan.

Sebenarnya apasih yang suka membuatku marah kepada istri ? Sifat-sifatnya yang sangat berlawanan arah denganku yang sering membuatku suka kesal kepadanya. Aku adalah orang yang suka bertindak cepat tapi istri sangat lambat jika mengerjakan sesuatu. Ibaratnya aku sudah berlari bermil-mil jauhnya terpaksa harus berhenti berhari-hari menungguinya. Aku adalah orang suka dengan ketepatan waktu bahkan aku sering lebih cepat 15 menit atau 1/2 jam dalam menyelesaikan pekerjaan atau menghadiri sebuah pertemuan. Berbeda dengan istriku, dia sangat lambat sehingga pekerjaannya terasa lama sekali selesainya dan selalu molor dari waktu yang sudah ditentukan. Tapi memang harus aku sadari, istriku bukanlah dewi Durga yang mempunyai 8 tangan sementara pekerjaannya sangat banyak dan bervariasi. Akhirnya seperti dewa wisnu yang turun ke dunia untuk menyelaraskan alam, akulah yang membantu menyelesaikan semua, membantunya, membersihkan rumah dan memandikan duo balita.

Dalam hal ketepatan waktu dan janji, pernah aku dibuatnya sangat marah bak batara kala yang hendak menelan rembulan sehingga terjadilah gerhana. Pada saat kami merayakan ulang tahun adik Zuhdi di dunia fantasi ancol, setelah kami menaiki kincir angin raksasa bersama-sama kami berbagi tugas membawa anak-anak ke wahana sesuai dengan umur. Aku membawa abang Fattah dan mas Hafidz ke wahana yang lebih menantang sementara istri membawa kakak Ghina, mas Dzakhi dan adik Zuhdi ke wahana yang sederhana. Aku membuat kesepakatan bahwa kami akan bertemu di depan kemidi putar  pukul 13.00 untuk sholat Dzuhur berjamaah dan makan siang kemudian kami akan melanjutkan berenang di Atlantis. Kami semua sepakat dan kamipun akhirnya berpencar mencari wahana yang sesuai dengan umur anak-anak.

Waktu yang ditentukanpun datang, aku dan kedua anak leki-lakiku sampai di depan kemidi putar tepat pukul 12.45. Lama kami menunggu sampai jam 13.15, istri dan ketiga anakku belum muncul juga. Aku mulai khawatir, sementara kedua anakku menunggu di depan kemidi putar aku berkeliling menyusuri setiap wahana anak-anak. Lama sekali aku tidak menemukan, kebetulan semua HP ada di dalam tas istri sehingga kami tidak bisa saling kontak. Aku mengelilingi setiap wahana sampai 4 bahkan 5 kali tapi aku tidak menemukannya. Aku mulai emosi dan mengomel dalam hati, “mau sholat jam berapa!!! makan jam berapa !!! ke atlantisnya kapan..!!!”. Pikiranku berkecamuk akan kuapakan mereka nanti kalau ketemu, mengomelinya, memakinya kalau perlu memukulnya. Sepanjang perjalanan aku mencari mereka, dua ekor makhluk merah dan bertanduk dengan setia menemaniku dan selalu berbisik..“hajar aja bos….”. semakin lama aku semakin emosi karena tidak menemukannya.

Aku kembali ke tempat kedua anakku menunggu dengan wajah merah padam, anak-anakku hanya diam sementara kedua makhluk tadi mengundang pasukannya dan mereka dengan penuh semangat mendukung kemarahanku. Pukul 14.05, munculah wanita cantik itu bersama ketiga anaknya. Seperti biasa tanpa berdosa dia melemparkan senyumannya kepadaku, saat itu juga makhluk-makhluk yang tadi begitu bersemangat mendukungku berlarian tunggang langgang dan tinggalah aku seorang diri seperti di tengah padang gurun pasir. Perlahan dari ujung rambutku terasa hawa dingin merayap keseluruh tubuhku. Aku yang tadinya sangat kepanasan karena amarah berubah menjadi dingin seperti dikubur di dalam bongkahan batu es. Aku begitu damai dan tenang menyambut istri dan ketiga anak-anakku. “Dari mana kok lama” tanyaku kepada mereka. “Dari hello kitty, tadi jam 12.00 baru buka” kata istri sambil nerocos menceritakan kegembiraan anak-anaknya di dalam wahana.

Kamipun bergegas ke mushola untuk sholat Dzuhur kemudian keluar dari dunia fantasi dan menuju pantai untuk makan siang. selama istri mensuapi kedua balitaku, aku selalu memperhatikannya. Dia memang wanita yang luar biasa, senyumannya mampu meluluhkan amarahku, setan-setan di sekelilingku seperti takut melihatnya. Sekali lagi, entah karena kelembutannya yang meluluhkan hatiku atau karena memang aku sangat mencintainya aku tidak tahu persisnya. Dia hanyalah wanita biasa yang dulu tidak pernah aku kenal sebelumnya lalu dengan suka rela dia bersedia mengalami segala penderitaan barsamaku. Dia begitu setia dalam mendampingiku dan penuh kasih sayang mengurus kelima anakku serta berbakti kepada orang tuaku. Bagaimana aku bisa memarahinya apalagi berbuat kasar kepadanya sementara aku begitu mencintai dan bangga memilikinya.

Senyum yang menyejukkan

#Edi Padmono

Advertisements

10 thoughts on “Senyum Pengusir Syaitan

  1. Kebalikan dengan saya dan suami… hihihi….
    saya biasa lari marathon, ngerjain banyak hal berbarengan. sekolah SMA sambil kerja. kuliah sambil kerja meski hanya sabtu minggu dan harus menempuh perjalanan 3,5 jam. Sampai sekarang meski di rumah juga tetep ngerjain banyak hal berbarengan. beda dengan suami yg fokus di satu kerjaan hingga terkesan lambat. padahal aslinya malah lebih tuntas dan lebih ahli. tidak seperti saya yg serba buru2. hihi

  2. Haduuhh, ceritanya bikin saya melambung jauh. Heheh

    Semoga tetap menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah ya, mas 😀

    Mungkin karena lindungan Allah swt yg menjadikan senyuman itu menjadi “penyelamat” emosi yang berapi-api 🙂

  3. Senyum itu memang memang memiliki kekuatan yang dahsyat. Bisa menyembuhkan luka. Bahkan terkadang malah bisa manambah luka.

    Nah, tinggal kita pilih yang mana. 🙂

  4. Subhanallah. Beda dengan saya, kalau sudah marah rasanya mata dah kepingin melotot. trus segera ke kamar mandi… Wudhu. semoga Sakinah Mawadah Waromah selamanya. Amin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s