Tawakal

Mang ono seorang pedagang bakso kancil yang setiap hari mengelilingi gang-gang di daerah kota untuk mengais rezeki. Kegiatannya dimuali dari mencincang daging sapi disore hari kemudian mencampurnya dalam adonan tepung untuk dibentuk bulat-bulat. Setelah sholat subuh dia memasak bulatan-bulatan bakso dan siap untuk dijual keliling. Dengan bermodal daging sapi 1kg mang ono ini menafkahi istri, ibu dan ke-8 anaknya di kampung. Setiap minggu dia mengirimi uang ke kampung melalui jasa bus yang sopirnya dia kenal. Berdagang bakso kancil untungnya hanya sedikit, namun bagaimana lagi hanya itu yang bisa dia jalani dalam mengais rezeki yang halal. Dengan penghasilan yang pas-pasan itu dia harus membagi untuk kebutuhan hidupnya dan keluarganya, membayar kontrakan, makan dan keperluan anak-anak. Walaupun dia sangat kekurangan tapi dimata anak-anaknya dia adalah bagaikan dewa ataupun pahlawan super yang selalu mengabulkan permintaan mereka.

Ada siang ada malam, ada tanjakan dan pastinya ada turunan. Begitulah hidup dan itu juga berlaku pada orang kecil termasuk mang ono ini. Berdagang keliling tidaklah selalu menyenangkan, kadang habis dan terkadang seharian keliling hanya laku beberapa mangkok saja. Jika dagangannya tidak habis dia membagikan baksonya ke tetangga kontrakan terutama anak-anak. Bakso yang sudah dimasak tidak mungkin disimpan dan dijual lagi esok hari, karenanya walaupun merugi dia ihklaskan untuk dibagi-bagi ke tetangga. Jika sudah demikian hatinya begitu tersayat mengingat istri dan anak-anaknya. “Bisa atau tidak minggu ini aku mengirimi uang untuk anak-anak” begitulah rintihan hatinya setiap mengalami kerugian. Sajadah kumal menjadi saksi setiap tetes air matanya dalam sujud-sujudnya. Berdoa dan mengadukan kesedihannya kepada Alloh,  itulah yang hanya dia lakukan setiap waktu. Dengan demikian lepas sudah kepenatan dalam benaknya dan dia siap untuk melanjutkan mengais rezeki.

Suatu hari, nasip mang ono sangatlah malang. Satu hari penuh dia berkeliling tidak semangkokpun bakso yang terjual, hal yang samapun terjadi pada hari-hari berikutnya. Hingga pada suatu hari, ketika setengah hari berkeliling berdagang seperti biasa dia beristirahat dan sholat dzuhur di masjid yang sering dia lewati. Saat itulah lelaki kurus dengan kumis yang tipis itu menangisi nasipnya yang begitu menyedihkan. Tangisnya didengar oleh seorang habib yang kebetulan juga sholat di masjid itu. Sang habib berjalan mendekati pedagang bakso yang sedang terisak-isak menangis di depan gerobak baksonya.

“Assalamualaikum nak” Sang habib menyapa pedagang bakso.

Pedagang bakso itu mengangkat mukanya dan menyeka air matanya “Wa’alaikum salam”

“Kenapa kamu terlihat sangat sedih nak?”

Setelah saling berinteraksi cukup lama akhirnya mang ono itu menceritakan betapa sulitnya kehidupan yang harus dia jalani. Mang ono sangat mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya jika dia terus menerus mengalami kerugian. Sang habib sangat memahami derita hatinya, memang tidak mudah menghidupi keluarga yang banyak dengan pendapatan yang tidak pasti dan bahkan terkadang mengalami kerugian. Sang habib menengadahkan tangannya ke langit dan berdoa untuk mang ono dan keluarganya. Setelah selesai berdoa, sang habib memejamkan matanya beberapa saat sambil mulutnya berkomat-kamit melafalkan tasbih, tahmid dan takbir. Setelah selesai dia membuka matanya kemudian menghampiri dan duduk di samping mang ono. Sang habib menepuk pundaknya dan tersenyum.

“Sabar dan tawakalah nak, hidup ini telah sempurna dalam aturan dan rencana Alloh. Biarkanlah putri sulungmu hanya menimba ilmu di pesantren dan ketika sudah selesai lepaskanlah dia untuk merantau ke Jakarta. Mudah-mudahan dari putri sulungmulah semuanya akan menjadi lebih baik.”

Sang habib kemudian menulis beberapa tulisan arap pada sebuah lembar kertas ” nak, amalkanlah bacaan ini setiap sehabis sholat fardu, mudah-mudahan Alloh akan memberikan kemudahan dalam setiap urusanmu”

Mendengar nasihat dan petuah sang habib, mang ono menjadi lebih kuat dan bersemangat dalam menjalani hidupnya. Apapun yang terjadi padanya setiap hari selalu dia ihklaskan kemudian dia hanya bertawakal kepada Alloh semata. Setiap hari mang ono selalu mengamalkan amalan yang ditulis oleh sang habib setiap habis sholat fardu dan bahkan setiap dia sholat sunah tahajud. Mang ono juga menuruti untuk hanya mensekolahkan putri sulungnya di pesantren dan bukan ke pendidikan formal seperti anak-anak lainnya. Setelah putri sulungnya lulus dari pesantren yang setara dengan Tsanawiyah atau SMP terpaksa dia tidak bisa melanjutkan sekolah karena kondisi ekonomi. Seperti biasa setelah hari raya iedul fitri anak-anak yang sudah tidak sekolah berbondong-bondong merantau ke Jakarta. Begitupun dengan putri sulung mang ono, dia ikut merantau bersama bibinya yang sudah lama bekerja di pabrik garment di Tanjung priuk.

Setelah sekian lama merantau di Tanjung priuk, akhirnya ada seorang pemuda yang melamar . Pemuda itu berasal dari keluarga yang tidak jauh berbeda dengannya. Dan pemuda itu sangat unik, dia melamar mang ono seorang diri. Rasa ragu atas pemuda itu menyelimuti hatinya, akan tetapi karena putrinya telah bertekat menerima lamaran si pemuda maka diapun merestuinya. Setelah putrinya menikah, tidak ada tanda-tanda ada perubahan nasip pada keluarga mang ono. Dia tetap harus keliling berjualan bakso kancil dengan pendapatan tidak pasti untuk menghidupi keluarganya. Putus asa…? tidak, mang ono terus berusaha dan tawakal dalam mengais rezeki. Hingga akhirnya dia tidak sanggup lagi berdagang karena fisiknya yang mulai melemah karena sakit. Pada saat yang bersamaan ekonomi putrinya sudah mulai tumbuh, saat itulah menantunya datang dan mengambil alih peranannya sebagai pemberi nafkah keluarga. Menantunya membiayai sekolah kelima putranya dan menikahkan kedua putrinya yang lain.

Walaupun terkadang sakitnya kambuh, akhirnya kehidupan mang ono sebagai pedagang bakso kancil itu berubah. Kelima putranya sudah selesai sekolah sarjana dan bekerja. Kehidupan putri sulungnyapun semakin hari semakin membaik dan mapan. Kini mang ono menikmati kehidupannya di kampung dengan beternak kambing dan unggas sebagai hiburannya. Menjalani hidup dengan penuh tawakal mengantarkan putri sulungnya bertemu dengan pemuda yang baik dan mau peduli dengan kesusahan keluargannya. Walaupun dia tidak sanggup mensekolahkan putri sulungnya, tapi doa-doanya mampu mengantarkannya menjadi orang yang setara dengan orang yang berpendidikan tinggi. Sungguh hidup ini telah teratur dalam perencanaan Alloh, sebagai mahluk kita hanyalah bisa berusaha, berdoa dan bertawakal kepadaNya.  Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini selagi kita percaya.

#Edi Padmono

Advertisements

9 thoughts on “Tawakal

  1. ceritanya membuat semangat kembali, kadang saya suka lupa untuk bertawakal dan terlalu memaksakan kehendak, jadi kalo ada yg tidak tercapai suka down sendiri, tawakal itupenting sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s