Keluarga Mandiri

Pada saat aku masih bekerja di Pekanbaru, suatu hari ada teman kerja yang mengajukan cuti, walaupun cuti adalah haknya tetaplah harus dicantumkan mau kemana dan apa tujuan cuti sebagai administratif. Tujuan cuti temanku ini adalah untuk mengantar istrinya yang sedang hamil tua ke rumah orang tuanya sebagai persiapan persalinan. Waktu itu aku bertanya kepadanya kenapa harus melahirkan di kampung, dia menjawab biar ada yang mengurusi istri dan bayinya. Tiga tahun sebelumnya temanku ini juga melakukan hal yang sama untuk persiapan persalinan anak pertamanya. Temanku ini menikah di usia 25 tahun yang kalau menurutku sudah memiliki kematangan dalam berumah tangga, hanya saja aku heran kenapa setiap istri melahirkan dia selalu melempar tanggung jawab kepada keluarga terutama orang tua istri. Dalam pengamatanku banyak teman-temanku yang melakukan hal yang sama ketika istri mereka hendak melahirkan, mengantarnya ke rumah orang tua atau menjemput ibu mertua untuk merawat istri dan bayi mereka.

Bukankah menikahi seorang wanita adalah sebuah komitment untuk bertanggung-jawab sepenuhnya, baik dalam segala kesenangan atau kesusahan. Sebagai wanitapun seharusnya demikian, dia harus mampu bertanggungjawab atas rengekankan ketika minta dinikahkan dengan kekasih dambaan hatinya. Bukankan kelahiran adalah sebuah proses yang mengesankan, mengkhawatirkan dan juga membahagiakan. Lalu bagaimana kesan itu ada jika istri melahirkan dimana, sementara suami berada dimana. Dalam menghadapi sakitnya melahirkan sebenarnya bagi seorang istri itu tidak penting siapa dokter dan perawatnya, tidaklah penting ibu atau bapaknya yang menungguinya, tapi kehadiran suami tercinta disisinyalah yang memberikan dorongan psikologis untuk kuat menyelesaikan proses yang membahagiakan ini. Lalu kenapa harus ibu mertua yang meneruskan mengurus bayi ketika sudah pulang dari rumah sakit? bukankah kita dulu sudah menyusahkan dan diurusinya waktu kecil? kenapa kita harus memberinya lagi beban untuk mengurus cucunya. Jika kita belum pernah tahu bagaimana cara mengurus bayi, bukankah di rumah sakit kita bisa belajar dengan perawat bagaimana cara mengurusnya.

Sekedar cerita dan mudah-mudahan ceritaku ini bisa menjadi contoh dan motivasi kepada setiap yang sudah berani menikah. Ketika aku menikah, sejak diucapkan ijab kabul itulah aku sudah bertekad untuk menanggung setiap resiko yang akan terjadi kepada kami. Hari pertama setelah pesta pernikahaan kami langsung keluar dari rumah orang tua dan hidup di perantauan dalam sebuah rumah kontrakan yang kecil. Yah…aku memang tidak punya apa-apa waktu awal menikah dan memang hanya tanggung jawab yang aku janjikan kepada keluarga istri. Aku selalu menanggung sendiri semua beban dan tanggung jawabku, termasuk ketika istri hendak melahirkan anak pertama. Aku juga tidak punya pengalaman tentang persalinan dan bahkan ketika istri mengeluh sakit perutnya aku tidak tahu kalau dia hendak melahirkan. Setelah melihat bercak darah barulah aku sadar dan membawa itsri ke rumah bersalin. Disanalah aku menemani istri untuk jalan-jalan menunggu pembukaan bertamnbah dan pada akhirnya kami saling menggenggam tangan pada saat proses persalinan. Aku berusaha membimbing istri untuk selalu bersyahadat dan bertasbih ketika mengedan sementara para medis memberikan aba-aba.

Setelah bayi lahir, maka aku selalu mengikuti perawat ketika sedang memandikan, membedong dan mengganti popok ketika bayi pipis dan buang kotoran. Aku memang terbiasa denga anak kecil, tapi aku belum pernah tahu cara mengurus bayi. Selama tiga hari di rumah bersalin itulah aku belajar. Ketika sudah keluar dari rumah bersalin, semua urusan bayi dan rumah tangga aku yang mengurusnya. Memandikan hingga mendandani lalu menjemurnya kemudian membedong setelahnya. Memasak aku juga melakukannya dengan arahan istri sebagai mentornya. Mencuci pakaian, menyeterika, menyapu dan mengepel semua aku lakukan. Barulah setelah istri terlihat sehat pekerjaan mengurus bayi dan memasak diambil alih olehnya, aku hanya mengerjakan pekerjaan yang berat seperti mencuci, menyeterika, menyapu dan mengepel. Dalam kesederhanaan dan keterbatasan kami tetap bisa mengurus bayi kami dengan mandiri dan tidak merepotkan orang tua.

Jika kelahiran pertama aku masih bersetatus pengangguran, berbeda dengan ketika kelahiran anak kedua sampai kelimaku. Namun aku tetap mengurusnya secara mandiri dan tidak melibatkan orang tua. Kelahiran, saat ini adalah sesuatu yang bisa diprediksi waktunya sehingga walaupun aku sering dinas keluar kota aku tetap bisa mendampingi istri pada saat melahirkan. Ketika memasuki minggu terakhir untuk melahirkan, aku selalu mengambil cuti. Selanjutnya aku meminta kebijaksanaan dari atasan untuk tidak dinas keluar kota selama satu bulan sehingga aku bisa mengurus keluargaku. Jika anak pertama yang lahir maka hanya ada satu anak yang di urus, tapi ketika anak kedua sampai kelima banyak sekali yang harus diurus dan itu aku lakukan sendiri. dari pengalamnku mengurus bayi, tidak jarang aku mengajari tetangga yang baru melahirkan bagaimana cara mengurus bayi dari memandikan hingga membedongnya.

cropped-dscn35682-e1421663334426.jpg

#Edi Padmono

Advertisements

10 thoughts on “Keluarga Mandiri

  1. Alhamdulillah, saya dan suami juga tidak merepotkan orang tua kami ketika saya melahirkan. Waktu anak pertama lahir, kami tinggal di Riau. Kedua ibu kami datang tetapi yang mengurus bayi saya dan suami. Sesekali saja kedua ibu kami bermain2 dengan cucu pertama mereka. Begitu pun saat orang tua pulang ke Sulawesi, kami bersama2 merawat bayi kami. waktu saya hamil anak pertama, malah ibu saya yang heboh. Katanya urus anak itu susah, saya harus menyewa jasa perawat untuk memandikan anak dll. Alhamdulillah tidak perlu. Waktu di RS, dan sebelum melahirkan, saya langsung belajar memandikan bayi dan sepulang di rumah, saya sendiri yang memandikan bayi saya. Suami saya selalu sedia membantu. Alhamdulillah bisa 🙂

  2. Barokallah Bapak dan keluarganya..
    nanti kalo melahirkan saya juga inginnya ada suami, gak mau dikirim kemana mana, asal ada suami hati uda tenang.. bulan lalu saya keguguran usia 10w, stress maksimal, tp krn dukungan dr suami saya bisa bangkit lagi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s