Kerja Sama Dalam Keluarga

Kami adalah keluarga yang cukup ramai karena memiliki lima anak, jika rumah tetangga setiap subuh diramaikan dengan suara burung atau ayam peliharaan maka satu-satunya rumah yang sejak subuh diramaikan dengan suara anak-anak adalah rumahku. Rumah semakin ramai ketika hari libur tiba yang biasanya adik-adik iparku datang dan menginap di rumahku. Rata-rata tetanggaku memiliki dua anak dan satu asisten rumah tangga dan bahkan ada yang memiliki lebih dari satu asisten. Sementara kami dengan anak yang banyak namun tidak memiliki asisten rumah tangga. Dengan jumlah anak yang banyak tentu rumah selalu berantakan, cucian dan seterikaan yang menumpuk, cucian piring yang banyak. Rumah selalu berantakan karena mas dzakhi dan adik zuhdi yang masih balita dan selalu menggelar mainan-nya sesuka hatinya dan kalau makan kue masih berantakan baik bungkus atau serpihan sisa makanannya. Masalah cucian dan seterikaan sudah kebayang kan ? dengan jumlah tujuh orang yang masing-masing berganti pakaian 3 stel setiap hari, bahkan untuk mas dzakhi dan adik zuhdi bisa berganti 4 – 6 stel sehari.

Abang FattahJika mempunyai asisten rumah tangga mungkin enak karena semua dikerjakan oleh asisten (mungkin lo….soalnya kami belum pernah punya asisten). Karena kami tidak punya ART, maka kami harus mengerjakannya sendiri. Untuk itu jika tidak diatur dan dibagi tugas dan saling bekerjasama dalam keluarga maka akan sangat melelahkan dan merepotkan nyonya rumah. Pekerjaan rumah kapasitas-nya tetap untuk setiap harinya, dari mencuci pakaian, mencuci piring, menyetrika, menyapu, mengepel dan membersihkan kaca baik pintu jendela maupun perabotan. Pada awal-awal anak-anak masih kecil, kami melakukan semuanya hanya berdua dan itupun lebih cenderung istri yang dominan karena aku harus bekerja. Namun kini dengan rumah yang lebih besar tentu kami tidak mungkin melakukan semuanya sendiri dan kebetulan anak-anak sudah mulai besar dan bisa diajari mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Alhamdulillah kami adalah keluarga muslim yang taat, sehingga kami memulai aktifitas kehidupan dimulai dari sebelum subuh. Jam 4 pagi kami semua mandi kecuali adik Zuhdi. Setelah itu aku, abang Fattah dan mas Hafidz berangkat ke masjid dengan bersepeda untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah sementara istri sholat dirumah berjamaah dengan kakak Ghina dan mas Dzakhi. Setelah itu barulah kami memulai bekerja, Istri mulai mengerjakan pekerjaan dapur untuk sarapan dan bekal anak-anak sekolah. Aku memilah-milah pakaian kotor untuk dicuci, pakaian dalam aku rendam untuk dicuci secara manual sementara pakaian biasa langsung aku masukan ke mesin cuci. Abang Fattah menyapu dan mengepel lantai bawah, sementara mas Hafidz menyapu dan mengepel lantai atas. Kakak Ghina membersihkan kaca pada semua meja serta mencuci piring ketika mereka telah selesai sarapan. Bagaimana dengan mas Dzakhi? anak yang satu ini karena tidak dibagi tugas terkadang malah ngerecokin saudara-saudaranya. Maksud mas Dzakhi sebenarnya ingin membantu, tapi karena masih kecil malah terasa mengganggu ketiga saudaranya.

Jam 6;30 rumah sudah mulai sepi, karena yang sekolah SMP dan SD sudah berangkat semua. Tinggalah mas Dzakhi yang main sendirian menunggu berangkat sekolah TK. Biasanya adik Zuhdi dibangunkan kemudian dimandikan oleh istri. Sementera menunggu waktu berangkat mas Dzakhi aku menyiram bunga dan mencabuti rumput liar di halaman depan dan samping rumah. Jam 07;15 aku mengantar mas Dzakhi sekolah dengan berjalan kaki, mas Dzakhi memang unik dia maunya diantar-jemput sekolah hanya dengan berjalan kaki. Ada baiknya juga untuk-ku, karena aku sambil olah raga pagi berjalan cepat selama 15 menit sehingga totalnya 1 jam lamanya aku berjalan untuk antar-jemput mas Dzakhi. Lumayan berkeringat dan untuk membakar lemak. Setelah mengantar mas Dzakhi, aku membantu istri mencuci pakaian dalam yang direndam tadi kemudian mengajak adik Zuhdi bermain di taman atau jalan-jalan sepanjang trotoar jalan raya sementara istri meneruskan memasak untuk kami semua. Jam 10;30 aku menjemput mas Dzakhi kemudian mengajak nya bersama adik Zuhdi bermain agar tidak mengganggu mamanya memasak.

Kami pun istirahat setelah makan siang sampai anak-anak pulang dari sekolah pada jam 15;00. Namun terkadang kedua balita kami tidak mau tidur sehingga kami harus menemani mereka terus bermain. Ke-tiga anak kami yang besar kami beri kesempatan bermain atau istirahat sampai jam 16;00. Setelah itu kami kembali mengerjakan tugas kami masing-masing bedanya tidak ada mengepel dan membersihkan kaca. Istri menggosok baju yang sudah kering dan aku memandikan da mengajak ke-dua balita kami bermain ke taman. Pada waktu mahrib kami bertiga kembali ke Masjid untuk sholat berjamaah dan kami menunggu sampai isya’ masuk dengan mengaji dan menghafal surat-surat Al-Qur’an. Sesampainya rumah ba’da isya anak-anak belajar untuk pelajaran esok hari dengan mentor langsung dariku. Ke-tiga anak kami memiliki ruang belajar sendiri-sendiri sehingga aku harus mondar-mandir bergantian dalam mendampingi mereka belajar. Aku membuat mentoring Matematika dan IPA sebagai prioritas, sehingga siapa yang ketika esok hari ada dua pelajaran itu maka aku lebih fokus mendampinginya dalam belajar.

Semua itu adalah cerita ketika aku berada di rumah, bagaimana kondisi rumah kami ketika aku selama dua minggu berada di luar kota? tentu sangat berbeda dan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku beralih kepada istri dan abang Fattah secara proporsional. Untuk mentoring aku tetap bisa melakukan dengan cara online, yaitu anak-anak menanyakan materi dengan memphotonya kemudian mengirim kepadaku melalui BBM atau WA lalu aku membalas jawabannya dan jika anak-anak belum jelas maka aku langsung telepon kepada mereka. Hari sabtu minggu adalah hari bebas bagi anak-anak, mereka boleh bermain ke rumah teman atau kami sengaja membawa mereka jalan-jalan sampai sore untuk melepas kepenatan atas rutinitas harian mereka. Begitulah cara kami mengatur pekerjaan rumah kami agar tidak terlalu membebani istri dan mengajarkan anak-anak agar terbiasa dengan pekerjaan sehingga ketika mereka nanti sudah harus kost tidak terlalu kaget dengan seabrek pekerjaan rumah.

#Edi Padmono

Advertisements

8 thoughts on “Kerja Sama Dalam Keluarga

  1. wah rajin ya abang dan kakak bantuin pekerjaan rumah, anak saya yg 8 taun bantunya masih yg gambpang2 kaya buang sampah dapur ke tempat sampah depan rumah, hidupkan lampu saat magrib, beres2 kamarnya.

  2. Saya dulu tinggal dengan kakek nenek, di rumah selalu dibiasakan dengan pekerjaan rumah meskipun ringan. alhamdulillah terbiasa sampe skrng sudah berkeluarga, insyaallah gak perlu art, gotong royong sama suami aja hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s