Menaklukan individualisme

Pada saat hendak membeli rumah yang aku tempati saat ini, aku sempat ragu dan bertanya kepada istri “mama berani tinggal dilingkungan yang seperti ini ?” namun dengan tangkas istriku menjawab “Apa yang ditakutkan? toh kita sudah pernah tinggal di beberapa tempat yang baru “. mendengar jawaban itu aku lega dan meneruskan transaksi pembelian rumah. Walaupun rumahnya sudah cukup besar dibanding dengan rumah yang lama kami tempati, namun tetap saja masih kurang untuk menampung kami semua. Maklum kami mempunyai 5 anak dan kebetulan ada beberapa adik yang ikut tinggal bersama kami. Kamipun menambah bangunan pada sisa tanah yang ada dan tentunya sambil melakukan renovasi terhadap bangunan yang sudah ada. setelah semuanya selesai dan rumah siap kami huni, kami belum bisa langsung pindah karena anak-anak masih harus menyelesaikan sekolahnya, barulah setelah kenaikan kelas dan kelulusan kami bisa pindah rumah.

Yang aku khawatirkan akhirnya terjadi, kami yang dahulu tinggal di perumahan sederhana yang masih bernuansa desa yaitu ramai dengan anak-anak dan kebersamaan antar warga terjalin dengan baik. Di perumahan yang baru ini kami tinggal sebagai minoritas, suasananya sangat individual dan antar tetangga tidak saling kenal, anak-anak main di rumah masing-masing, dan ketika week and bukannya ngumpul-ngumpul warganya tapi perumahan malah kosong karena pada pergi berlibur. Tidak di sangka kami tinggal di claster terelit di perumahan ini, rata-rata penghuninya adalah pejabat eselon, pengusaha dan warga asing. Jika aku amati, masing masing rumah minimal memiliki 3 mobil kelas 2500 cc ke atas dan sebuah moge, terbayangkan betapa berkelasnya mereka. Sementara kami adalah keluarga kelas bawah dengan penghasilan pas-pasan sehingga terlihat seperti ayam diantara gerombolan gajah. Tapi mau apa dikata, kami tetap harus tinggal dalam claster ini dan sebisa mungkin menyesuikan diri.

Berkenalan dengan tetanggga sangatlah sulit, karena mereka orang yang super sibuk dan rumah mereka selalu tertutup. Pada minggu pertama kami hanya mampu berkenalan dengan tetangga depan rumah dan pak RT yang kebetulan orang sunda dan satu kabupaten dengan istri, lumayan untuk modal dijadikan saudara. Karena lingkungan yang sangat sepi, anak-anak merasa tidak nyaman karena terbiasa bermain dengan banyak teman terutama anak ke-4 kami. Mas Dzakhi merengek minta kembali ke rumah lama  “Pa….rumah ini tidak enak, tidak ada warung, tidak ada teman….kita balik ke rumah lama ajalah pa….” rengek Adzakhi. “Rumah yang di sana kan udah disewain dik…. di tempatin orang….” kami berusaha menjelaskan. “Lagian kenapa sih papa suka pindah….kan enakan disana….” balas Adzakhi. Sungguh pertanyaan adzakhi sangat membuat kami sedih, kami yang berusaha untuk membuat anak-anak bahagia dengan rumah yang lebih besar dan bagus ternyata malah membuat mereka tidak nyaman.

Akhirnya akupun mencari cara agar anak-anak betah tingal di rumah yang baru. Kebetulan waktu pindahan masih musim penghujan, aku membiarkan kelima anak-anakku bermain bola ketika hujan datang atau berlari larian di jalan. Kalaupun tidak hujan kami juga tetap bermain bola pada sore hari di jalanan sepanjang perumahan. Lama kelamaan anak-anak tetangga memperhatikan keasyikan kami bermain dari jendela rumah mereka. Bagaimanapun anak-anak tetaplah anak-anak, mereka tertarik untuk ikut bermain dan satu persatu mereka mengajak berkenalan dengan anak-anakku dan bergabung bermain bola. Aku masih ingat betul ketika anak seorang chinis keluar rumah dan meminta ijin kepadaku untuk ikut bermain “Om ikutan main boleh…?” kata anak itu. “Boleh….kenalin anak-anak om….” jawabku. Setelah teman bermainnya banyak mereka bermain bola di lapangan fasum dan bahkan ketika anak-anakku belum keluar rumah waktu jam bermain mereka selalu menghampiri dan memanggil manggilnya.

Tetangga kami memang protektif terhadap anak-anaknya, terutama yang masih balita. Mereka jarang mengijinkan anak-anaknya bermain diluar tanpa pengasuh. Berbeda dengan anak-anak kami yang bebas bermain diluar asalkan tidak keluar dari cluster. Berbeda dengan rumah tetanggga yang selalu tertutup pintunya, pintu rumah kami selalu terbuka dan mempersilahkan siapa saja anak-anak yang ingin bermain di dalam rumah kami. Karena kami mempunyai dua balita dan satu anak perempuan serta kami sangat welcome terhadap anak anak maka ada beberapa balita yang ikut bermain bersama duo balita dan perempuan kami. Kami senang walaupun rumah selalu berantakan dengan mainan anak-anak. Bukan hanya soal bermain, karena anak anak sering melihat kami berangkat bersepeda ke masjid menjelang mahrib akhirnya ada beberapa anak-anak dari keluarga muslim yang ikut bersepeda ke masjid dan pulang setelah sholat isya. Dan permasalahan anak-anakpun terselesaikan……

Kemudian tinggalah kami untuk mengenal dengan tetangga kami yang super exlusif. Pertama-tama adalah istri harus kenal dengan ibu-ibu walaupun hanya sekedar say hello. Setiap pagi ada pedagang sayur yang diijinkan security masuk ke cluster dan saat itulah istri berkenalan dengan ibu-ibu yang berbelanja walaupun terkadang yang berbelanja hanya para ART. Untuk mengenal lebih banyak ibu-ibu, isrti berbelanja tidak selalu menunggu pedagang sayur sampai depan rumah melainkan bergantian ke gang-gang lain. Kebetulan istri adalah orang yang ramah dan selalu bertegur sapa dengan siapa saja yang lewat sehingga hampir seluruh ibu-ibu di cluster dia mengenalnya. Akupun juga mencari cara agar bisa berkenalan dengan kaum bapak, aku mencari waktu yang tepat dan setelah aku amati ternyata setiap hari sabtu pagi mereka mencuci mobil dan saat itula aku berkenalan dan ngobrol dengan mereka. Jika tidak liburan ke luar kota mereka biasanya joging di minggu pagi dan akupun biasa menunggu di post security untuk menunggu mereka yang mau joging  pada saat itulah aku dan mereka bisa akrab.

Akhirnya kami mengenal hampir 80% warga cluster dan membuat tetangga depan rumah heran karena dia sudah 10 tahun tinggal hanya mengenal 30% dari tetangga. Dalam pengamatanku, tetanggaku bukanlah orang yang angkuh walaupun mereka adalah kalangan atas. Mereka sangat friendly dan baik, hanya saja karena kesibukan masing-masing seolah olah mereka saling tertutup untuk saling mengenal. Kamipun saat ini sangat nyaman dengan kondisi yang ada, kami sudah saling mengenal, anak-anak juga tidak kesepian dan yang paling menyenangkan adalah karena kesibukan masing-masing maka tidak ada ibu-ibu yang bergosip.

#Edi Padmono

Advertisements

5 thoughts on “Menaklukan individualisme

  1. Hm, asalkan mau membuka diri dan menjaga sikap, tinggal di lingkungan yang bisa dikatakan cukup mewah sebenarnya bisa menyenangkan juga ya Pak Edi.

  2. Jadi inget waktu ikut suami pindah. Kalo diem diri di rumah dan gak mau kenal dengan tetangga ya sulit padahal mereka orang terdekat yg dapat kita mintai tolong kalo ada apa2

  3. Akhirnya individualisme mereka dapat ditaklukkan ya mas. Memang harus ada yang mau memulai membuka diri agar terjadi proses asimilasi sosial secara alamiah (pembauran). Kalau tidak, ya sulit untuk terjadi pembauran antar warga di cluster elit seperti itu. Selamat menikmati rumah barunya mas Edi,
    Salam juga untuk keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s