Wonderfull Wife

Kalau membahas soal isteri dan kehebatannya, selain ibuku aku tidak bisa melihat orang lain sehebat dan sebaik istriku sendiri. Yes, she is “Wonderfull Wife” bagaimana tidak, dialah yang mensuportku selama ini dan mengurus segalanya untuk kami sekeluarga. Seorang wanita yang tidak pernah tahu siapa diriku sebelumnya namun dengan rela mau ikut dalam lika-liku kehidupanku. Istriku adalah wanita yg tidak cukup waktu dalam perkenalan denganku, aku dan dia hanya kenalan dan hanya bertemu dua kali kemudian menikah. Ya…..sekitar satu bulan saja kami berkenalan dan menikah. Memang bisa dikata aku adalah orang gila dan memang waktu itu aku memang setengah gila karena ditinggal menikah oleh kekasih. Walaupun aku gila tapi aku masih mempunyai standart wanita yang akan menjadi pendamping hidupku adalah wanita sholehah pernah belajar di pesantren dan mempunyai hafalan Al-quran yang baik. Dan ketika aku bertemu dengannya aku langsung meminangnya.

Aku bukanlah laki laki yang mapan dan bahkan aku baru bekerja beberapa bulan pada perusahaan nasional. Namun dengan sangat percaya dia menerima pinangan dan menikah denganku. Pada awal pernikahan aku pernah bertanya kepadanya “koq ibu mau jadi istri bapak kenapa? Padahal baru kenal dan tidak tahu bapak orang baik atau jahat?” (oh iya, aku dan istri waktu kenalan sampai sebelum punya anak pertama manggilnya bapak dan ibu). Istriku menjawab dengan ringan dan sangat logis walaupun dia bukanlah seorang yang berpendidikan formal dan jawabannya adalah “ibu memang baru kenal dan tidak tahu siapa sebenarnya bapak, tapi seorang lelaki yang baru kenal lalu menawarkan pernikahan adalah bukan type lelaki yang suka main-main dengan wanita. Ibu memang tidak tahu baik buruknya bapak tapi sebenarnya siapa yang bisa menjamin seseorang baik atau buruk selain dengan mempercayainya. Dan yang paling penting adalah Allah memberikan ketetapan hati kepada ibu untuk menjawab ya atas ajakan bapak meraih ridho Allah”.

Setelah menikah, beberapa bulan kemudian aku terkena phk atas pelanggaran menolak mutasi ke daerah ujung timur Indonesia. Sebelum phk aku berdiskusi kepada istri bahwa ada rencana mutasi dan jika menolak maka phk resikonya dan aku merasa sangat berat untuk mutasi itu. Istrikupun menanggapinya dengan kata-kata yang menyejukan hatiku. “Jika berat pastilah nanti tidak akan baik hasilnya dan phk mungkin lebih baik, ibu siap ikut menanggung segala resikonya dan ibu janji tidak akan pernah mengeluh dengan apa yang akan terjadi nanti”. Akhirnya akupun memilih phk dan perjalanan yang mendakipun dimulai saat itu, aku sulit mendapatkan pekerjaan dan aku mendapatkan musibah yang mengakibatkan habis uang tabunganku. Kamipun hidup laksana gelandangan tanpa bekal sedikitpun.

Karena kehabisan uang dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya aku putar arah 180 derajat yaitu menjadi pedagang asongan di bus kota. Akupun mengajaknya pindah kontrakan ke tempat yang murah, kontrakan yg kumuh dan dipinggir sungai yang mana setiap bulan purnama kami kebanjiran air laut yang pasang. Dalam keseharianku aku hanya membawa pulang uang 15.000 rupiah dan dari uang itulah istriku mengatur segalanya, untuk makan, uang sewa dan tabungan biaya melahirkan. Dengan kondisi seperti itu, istriku tidak pernah mengeluh dan tetap setia serta selalu memberikan semangat. Kondisi seperti ini berlangsung sangat lama sampai anak pertamaku lahir dan berumur 7 bulan. Sungguh sangat berat seorang wanita yang menyusui namun hanya mengkonsumsi makanan seadanya, tanpa susu ataupun daging, buah dan sayuran yang cukup. Namun istriku tetap tabah dan tidak menyesali atas pilihannya hidup denganku.

Kemudian aku mendapatkan kerja dan harus merantau bermil-mil jauhnya meninggalkannya seorang diri mengurus bayi kami. Hanya dengan doa istriku melepaskan aku merantau. Aku bekerja di pedalaman kalimantan yang mana waktu itu belum ada alat komunikasi sehingga kami tidak saling tahu kabar masing masing. Bagi istriku, dengan menyibukan mengurus bayi kami maka terlewatlah hari demi hari dilalui hingga akhirnya kami berjumpa setelah tiga bulan perpisahan. Kebetulan aku dipindah tugaskan ke kota Pekanbaru dan saat itulah aku memboyong mereka. Di kota bertuah pun bukanlah sebuah hidup yang enak dan mudah. Jika di kalimantan dulu aku bekerja di proyek gajiku lumayan karena ada tunjangan proyek selain gaji pokok. Tapi di kota yang baru aku hanya mendapatkan gaji pokok saja.

Dengan gaji kecil dan hidup di kota yang mahal membuat kehidupan kami tetap dalam kesulitan. Namun istriku tetap setia dan mensuportku. Istriku selalu memberi masukan agar aku mencari peluang lain selain bekerja agar kehidupan menjadi lebih baik. Hingga akhirnya aku bisa keluar dari masa-masa sulit. Setelah kami memiliki tiga anak kamipun pindah ke kota Tangerang dan saat itulah ibuku semakin terpuruk kesehatannya. Ibuku yg sakit strouke semenjak kami tinggal di Pekanbaru semakin parah kondisinya dan harus dirawat seperti bayi. Karena hanya akulah yang mempunyai istri yang selalu dirumah maka semuanya saudaraku sepakat untuk merawat ibu di rumahku. Kembali, aku selalu kagum dengan istriku sendiri. Istriku memperlakukan ibuku dengan sangat baik melebihi kami sebagai anak-anak kandungnya. Istriku setiap hari membersihkan kotoran baik bab atau bak ibu, memandikan dan menyuapinya makan penuh kasih sayang. Karena belajar dari istrilah akupun bisa mengurus ibuku hingga akhirnya ibu menghadap sang Khaliq.

Saat ini kami mempunyai lima orang anak, yang pastinya bisa terbayang betapa repotnya istriku mengurus mereka. Kami juga tidak mempunyai asisten rumah tangga sehingga semuanya pekerjaan rumah harus dikerjakan sendiri. Memang kami saling membantu dalam mengerjakan tugas rumah namun tetap istrikulah yang paling lelah dalam mengerjakan semuannya terlebih jika aku sedang berada di luar kota selama dua minggu. Namun istriliku tidaklah pernah mengeluh atas lelah yang dia alami setiap hari. Diapun selalu penuh cinta dan kehangatan dalam menyambut dan melayaniku. Setiap saat aku selalu mengingat cerita perjalanan lika-liku perjalanan kehidupan kami terlebih atas ketabahan dan kesabarnya serta suportnya dalam mendampingiku sehingga aku akan selalu bersyukur dan selalu menyayanginya.

PicsArt_1422713159542

Istriku……aku tahu hari ini 31 maret adalah hari lahirmu, selamat milad dan semoga selalu berlimpah keberkahan dan kasih sayang. Aku selalu menyayangimu dan akan selalu mengagumi ketulusanmu. Aku memang bikan seorang laki laki yang romantis dengan indahnya kata kata rayuan namun percayalah aku selalu bangga dan sayang kepadamu dan todak ada yang pernah sebanding dengan dirimu “you are my love, my live and you are a wonderfull wife”

#Edi Padmono

Advertisements

6 thoughts on “Wonderfull Wife

  1. Barakallah. Terharu membaca. Emoga istri Pak Edi terus diberi kesehatan dalam mendampingi Pk Edi dan anak2. Nikmat Allah yang luar biasa, Pak Edi beristri perempuan shalihah. Perempuan yang sulit ditemukan di dunia ini. Sakinah ma waddah wa rahmah terus ya, Pak Edi.

  2. istri sholehah, beruntungnya dirimu mas edi ditemani bidadari surga yang setia baik saat susah maupun senang, ayo sekarang waktunya workshop, mas edi yang work, mbak nya yang shop :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s