Pekerja juga bisa bebas finansial

Hari demi hari kehidupan semakin sulit, krisis ekonomi yang berkepanjangan dari tahun 1997 serta makin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat harga-harga kebutuhan primer maupun yang lainnya terus merangkak naik. Bagi para pemilik usaha sangat sulit mendapatkan untung yang besar karena terlalu tingginya modal yang tentunya akan mempengaruhi kesetabilan ekonomi mereka. Apalagi para pekerja yang kenaikan gajinya tidak sebanding dengan naiknya kebutuhan membuat mereka harus pandai-pandai dalam mengatur keuangan. Perusahaan tempat mereka bekerja tidak mungkin terus menambah gaji mereka untuk menyesuaikan kebutuhan karena perusahaan juga mempunyai keterbatasan kemampuan dan tidak mau merugi. Pada akhirnya, para pekerja atau pemilik usaha harus benar-benar pandai dalam menjalankan hidup yang semakin hari semakin sulit ini.

Sesuai pengamatanku krisis ekonomi akan selalu terulang setidaknya setiap 10 tahun. Untuk itu apapun kondisinya dan berapapun pendapatan kita terutama bagi para pekerja tetaplah harus bisa menabung dan merencanakan masa depan dan siap menghadapi krisis selanjutnya. Bagi para pemilik usaha tentunya lebih cerdas dalam mensikapi kondisi ini karena mereka mempunyai penghasilan yang fluctuatif setiap bulannya. Walaupun pekerja jika dia disiplin dan penuh dengan perencanaan maka dia juga akan bisa menciptakan kebebasan finansial walaupun tidak pernah bergabung dengan MLM. Dan ini adalah sekedar sering pengetahuan bagaimana aku seorang pekerja yang bisa mencapai tahapan itu namun jangan dibandingkan dengan pemilik usaha dan milioner ya…….

  1. Utamakan menabung : Kebanyakan orang selalu berfikir menyisakan penghasilan untuk ditabung maka aku selalu berfikir untuk menabung kemudian sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Kebetulan aku mulai bekerja setelah memiliki anak usia sekitar 8 bulan, sehingga aku harus mengejar ketertinggalanku dari perencanaan awal yang telah aku desain jauh sebelum aku menikah. Aku membagi dua tabungan yaitu tabungan umum dan tabungan pendidikan semuanya dalam bentuk emas yang mana pada awalnya aku mewujudkannya dalam bentuk perhiasan. Karena aku selalu membeli perhiasan dengan berat yang sama setiap 2 bulan maka pemilik toko perhiasan paham maksudku yaitu membeli untuk tabungan maka pemilik toko tersebut menyarankan untuk menabung emas sebaiknya dalam bentuk kepingan bukan perhiasan, saat itulah aku mulai mengenal kepingan logam mulia. Dalam menabung saat itu aku mempunyai target 2,5 gram emas tabungan umum dan 2,5 gram emas untuk tabungan pendidikan. Terkhusus tabungan pendidikan, bisa membaca pada tulisanku sebelumnya.
  2. Mengembangkan tabungan dalam bentuk rumah : Setelah bekerja satu tahun tentunya tabungan umum yang aku miliki menjadi 30 gram senilai ± 3 juta rupiah pada saat itu (tahun 2004). Kebetulan setiap pekerja yang sudah bekerja satu tahun mendapatkan THR dan Bonus tahunan. Aku mendapat THR 1 juta rupiah (1x gaji) dan bonus 4 juta rupiah (4x gaji) ups….ketahuan deh gajiku kecil…… 😀 .  Dari tabungan emas, THR dan bonus aku membeli rumah dengan cara kredit. walaupun saat itu aku tinggal dan mengontrak rumah petak di kota pekanbaru, tapi aku memilih membeli rumah di kota Tangerang karena Tangerang adalah kota industri dan memungkinkan asetku nantinya adalah aset yang produktif. Rumah yang aku beli adalah rumah secound, rumah RSSS type 21/60 yang sudah di renovasi menjadi 2 kamar dan ada dapurnya dengan harga 35 juta rupiah. Aku mengenapi uangku menjadi 10 jt dengan meminjam saudara sebesar 2 juta, dan aku mengambil KTA tenor cepat yaitu 2 tahun sebesar 25 jt dengan angsuran 1,4 jt/ bulan…..dan jreng…jreng…jreng…terbelilah rumah mungil itu. Rumah itu sebelum aku beli sudah ada yang mengontrak sehingga setelah pindah setatus kepemilikan mereka memindahkan uang sewa kepadaku. Rumah itu disewa dengan harga 300 ribu rupiah/bulan, lumayan buat tambah-tambah cicilan bank. Aku termasuk mendapat nilai bagus dalam bekerja sehingga aku mendapat kenaikan gaji sebesar 15% sehingga gajiku menjadi Rp 1.150.000 terbayang bukan……? dengan uang itu aku harus membayar cicilan KTA sebesar 1,4 juta dan aku harus tetap mengisi tabungan pendidikan dengan konsisten. Besar pasak daripada tiang, itulah yang terjadi….namun aku tidak mengeluh ataupun berdemo ke jalanan meminta kenaikan gaji seperti yang dilakukan para buruh akhir-akhir ini. Ini mungkin akibat dari the power of mepetness, sehingga aku menjadi cerdas untuk menutupi kekurangan finansial yang terjadi. Aku gunakan seluruh keahlianku untuk mendulang rupiah, sebagai guru privat sepulang kerja, freelance servis alat berat hari sabtu minggu dll sehingga aku bisa menutupi hutang, mengisi tabungan pendidikan dan lebihnya untuk makan sehari-hari. No day off, itulah hari-hariku saat itu. Namun kerja kerasku berbuah manis aku mendapat pelanggan setia untuk servis alat berat dan tidak jarang beliau suka memberi uang saku cuma-cuma kepadaku.
  3. Memberdayakan rumah : Setelah hutangku lunas, tidaklah merubah kebiasaanku dalam mencari uang. Selain dari gaji, uang freelance aku juga mendapatkan uang sewa yang utuh dari rumah di Tangerang. Bisa dikatakan dua bulan pertama aku berkelebihan uang, namun aku tidak mau terlena dengan itu. Lalu akhir 2006 aku kembali membeli rumah dengan sistem KPR di kota Pekanbaru, rumah RSH 36/108 yaitu rumah murah dengan 2 kamar tidur. walaupun rumah itu kecil namun mempunyai lokasi strategis yaitu di belakang kampus Universitas Riau. Rumah itu memang aku rencanakan untuk aku tempati bersama keluargaku, lumayan uang sewa rumah petak bisa dialihkan ke cicilan rumah. Harga rumah itu sangat murah karena disubsidi pemerintah yaitu 48 jt, dengan DP 10 juta maka aku mempunyai pokok utang 38 juta. Aku mengambil KPR tercepat yaitu 5 tahun dengan angsuran 770 ribuan (waktu itu bunga kpr 8% flat 2 tahun). Uang sewa rumah di Tangerang yang sebesar 300 ribu/ bulan dan uang yang dulunya aku pergunakan untuk sewa rumah petak sebesar 300 ribu/ bulan aku alihkan untuk membiayai cicilan rumah. Hutang tidak terlalu berat karena terkover sendiri oleh aset milikku, karena kebiasaan bekerjaku tidak berubah, aku mampu mengaktifkan tabungan umum yang fakum pada saat punya cicilan rumah Tangerang dan memperbesar tabungan pendidikan karena kebetulan anakku saat itu sudah 2 anak. Tahun 2008 aku dipindah tugaskan di kantor pusat Jakarta, walaupun aku mendapat promosi tapi gaji promosiku hanya menjadi 2 juta rupiah, pekerjaan freelanceku akan hilang karena aku pindah kota dan aku harus bersiap-siap hanya mendapatkan uang dari gaji saja. Sementara aku mempunnyai cicilan 770 ribu/bulan dan tentunya aku akan menempati rumahku di Tangerang sehingga berkurang pendapatan dari aset. Lalu aku mengeluarkan uang tabungan umum untuk merenovasi rumah Pekanbaru sebelum kepindahannku, karena masih ada sisa tanah maka rumah itu aku jadikan 4 kamar tidur 2 kamar mandi aku juga menaikan daya listriknya dari 900Watt menjadi 1300 Watt. Sebelum aku pindah, aku promosikan rumah itu sebagai kos-kosan di kampus UNRI dengan tarip 500 ribu/bulan untuk setiap kamarnya. Kebetulan aku pindahan bulan Agustus sehingga banyak mahasiswa baru yang mencari tempat kos, dan akhirnya rumahku langsung terisi oleh anak kos beberapa hari setelah aku kosongkan. Cicilan rumah aman dan aku masih untung 1,3 juta sehingga pendapatanku menjadi 3,3 juta/ bulan. Rutinitas bekerja di Jakarta membuat aku mati kutu dan jenuh. Aku setiap hari harus berangkat ba’da subuh dan pulang selalu lebih dari jam 20.00, maklum kantorku di Pulogadung sementara aku tinggal di Tangerang. Lalu aku menyebar lamaran ke berbagi perusahaan dan akhirnya awal 2009 aku mendapatkan pekerjaan sebagai operator di sebuah pabrik di Kalimantan timur. Secara basic selary tidak terlalu jauh kenaikan gajinya akan tetapi karena lokasi pabrik yang sangat jauh dari kota dan sedikit terisolasi maka perusahaan banyak memberikan tunjangan yang cukup lumayan dan perusahaan juga menerapkan sistem regu bergilir on/off. Karena aku melamar melalui kantor Jakarta, maka aku mendapat uang relokasi yang jumlahnya lumayan yaitu 10 juta rupiah walaupun secara kenyataan keluargaku tetap tinggal di Tangerang. Pada saat aku resign dari perusahaan lama aku juga mendapatkan uang pesangon yang cukup lumayan yaitu 20 juta rupiah. Kedua uang itu aku pergunakan untuk melunasi KPR rumah di pekanbaru dan masih tersisa yang kemudian aku masukan kedalam tabungan umum. Karena tidak punya cicilan maka aku bisa mengisi tabungan umum lebih besar setiap bulannya. Hidup tanpa cicilan itu rasanya koq malah gimana…gitu…terlalu datar rasanya padahal kata Agnes monica live is never flat. Akhirnya awal tahun 2010 dengan melihat isi tabungan umum mulai mencari rumah lagi yang lebih besar untuk keluargaku karena anaku sudah 3 rumah yang kami tempati menjadi terasa sempit. Kebetulan perusaahanku memberikan THR, tunjangan cuti dan uang jalan-jalan untuk keluarga yang nilainya dihitung dari jumlah anggota keluarga sedangkan aku sudah berjumlah 5 orang sehingga uang jalan-jalannya lumayan yang mana semua uang itu aku simpan ke tabungan umum karena kami memang bukan tipe keluarga yang hobi jalan-jalan. Aku membeli rumah lagi-lagi secound hand dengan cara KPR, rumah RS type 45/108 yang sudah direnovasi menjadi 3 kt dan dapurnya luas dengan harga 150 juta dp 50 jt dan pokok hutang 100 juta. Aku mengambil tenor tercepat yaitu 5 tahun dengan cicilan ± 2,5 juta/bulan. Rumah itu langsung kami tempati dan rumah yang lama aku sewakan dengan harga 500 ribu/ bulan sementara rumahku yang di pekanbaru uang sewa perkamarnya juga sudah menjadi 600 ribu sehingga rumah itu menghasilkan 2,4 juta/ bulan. Tertutuplah cicilan rumah dari uang sewa rumah di pekanbaru sedangkan uang sewa rumah di tangerang yang lama masuk tabungan umum.
  4. Usaha kecil-kecilan. Hidup masih terlalu datar tanpa utang yang berarti…….lalu 6 bulan berikutnya aku membeli mobil murah secara kredit selama 3 tahun dengan dp ringan, cicilan mobil 3,6 juta/bulan. Barulah hidup ini terasa karena aku mulai kekurangan finansial. Hidup di tangerang itu peluang untuk mencari uang sangat bagus, disamping dekat dengan bandara Soekarno-Hatta Tangerang juga kota industri sehingga untuk menutupi kekurangan finansial aku gunakan peluang itu. Mobil adalah aset yang merugi, namun aku tidak mau mobilku hanya menjadi barang konsumtif. Ketika aku menjalani off dutty aku gunakan mobil sebagai taxi di bandara dan ketika aku menjalani on dutty mobil terkadang disewakan. Selain itu aku juga suka mendatangi pabrik-pabrik dan usaha konveksi untuk membeli barang kemudian aku jual lagi. Dan kami berhasil mendapatkan barang dari produsen langsung yaitu pabrik panci, pengusaha sprei & badcover dan pakaian muslim yang mana kami jual dengan cara tempo atau 2 – 4 kali bayar. Dari uang hasil dari mobil dan keuntungan jualan barang akhirnya keuangan kami kembali stabil dan bahkan masih bisa menutupi tabungan umum dan tabungan pendidikan. Pertengahan tahun 2012 mobil sudah lunas sementara rumah yang aku tempati masih sisa 18 bulan dengan outstanding pokok hutang sekitar 40 juta. 
  5. Memindahkan aset : Aku mulai lelah mengurus rumah yang di Pekanbaru dan aku akhirnya menjualnya. Rumah yang dulu hanya seharga 48 juta terjual 350 juta karena sudah renovasi dan produktif sebagai kos-kosan.  Aku berpikir keras agar uang dari penjualan rumah secepatnya dipergunakan untuk membeli rumah lagi. Lalu aku melakukan survei ke tempat tempat yang mempunyai nilai investasi tinggi dan produktif. Pilihanku jatuh ke kota Karawang yang mana merupakan kota industri baru. Kerawang adalah kota yang rawan banjir, oleh karena itu aku memilih pengembang yang terpercaya dalam mendesain kawasan bebas banjir di daerah banjir. Aku membeli rumah di kawasan milik Agung podomoro, type 58/108 dengan harga cash 350 juta. Satu tahun kemudian barulah terjadi serah terima kunci rumah dan langsung aku meminta bantuan marketingnya untuk mencarikan penyewa. Karena lokasi yang terbukti bebas banjir, rumahku tidak menunggu lama langsung mendapat penyewa dari perusahaan untuk seorang managernya seharga 30 juta/tahun dan aku meminta langsung 2 tahun sewa yaitu 60 juta. uang itu langsung masuk tabungan pendidikan. Awal tahun 2014 rumah yang aku tempati lunas dan aku sama sekali tidak memiliki hutang. Karena gajiku utuh, aku tidak memerlukan lagi tabungan umum. Semua uang dari aset dan usaha kecil-kecilan masuk ke tabungan pendidikan. tahun itulah aku benar-benar bebas hutang dan usiaku genap 35 tahun.
  6. Bebas finansial di usia 35.  Karena tahun 2014 anaku berjumlah 5, maka rumah yang aku tempati terasa sempit lagi. Aku berencana mencari rumah yang lebih besar untuk menampung keluargaku, namun aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan bank lagi untuk berhutang. Walaupun dengan jangka pendek, hutang dengan bank tetaplah berbunga. Kemudian aku mengajukan pinjaman ke tempatku bekerja dengan ikatan kerja 15 tahun. Mungkin rezeki si bungsu, permohonanku dikabulkan, aku mendapat pinjaman lunak tanpa bunga dengan sistem potong 20% gaji selama 15 tahun. lalu aku membeli rumah type 158/160 di kawasan milik Ciputra. Setelah menunggu kelulusan SD anak sulung kami langsung pindah rumah pada pertengahan 2015 dan rumah sebelumnya aku sewakan seharga 1,5 juta/bulan. Sementara rumahku yang paling lama uang sewanya sudah menjadi 750 ribu/bulan. Kedua uang sewa bulanan itulah yang aku pergunakan untuk membayar SPP anak-anaku yang semuanya sekolah suwasta. Sementara uang sewa tahunan dari rumah kerawang tidak semuanya aku wujudkan emas dalam tabungan pendidikan melainkan sebagian tabungan tunai. Tabungan tunai dari rumah karawang itulah yang aku pergunakan untuk biaya sekolah tahunan anak-anakku sehingga mulai saat itu aku tidak membiayai sekolah anak-anaku dari gaji dan aku juga sudah tidak mengisi tabungan pendidikan dari gajiku pula. 80% gajiku benar-benar bersih untuk hidup santai, untuk jalan-jalan setiap bulan dan itulah yang aku sebut aku bebas di usia 35 tahun. Bagaimana tidak, aku tidak memikirkan biaya pendidikan anak, dan jika umurku panjang aku akan tetap bekerja dan berpenghasilan tetap dan tercover kesehatanku 15 tahun ke depan.

Chos16004jpg22gold-barBegitulah caranya aku mewujudkan kebebasan finansial, aku ingin dari apa yang aku raih aku bisa mebiayai sekolah anak-anaku sampai ke jenjang S2. Dari tabungan pendidikan itulah yang akan menopang biaya pendidikan mereka dan apabila ternyata tidak cukup maka rumah-rumah itulah yang akan menutupinya. Aku tidak ingin seperti orang tuaku yang harus pontang-panting sampai usia lanjut mencari pinjaman untuk sekolah anak-anaknya. Aku memang tidak pandai dalam berkarir di dunia kerja namun walaupun aku bekerja sebagai worker aku merasa nyaman dan berasa sudah pada masa purna karya alis pensiun. Jika dulu aku selalu diolok olok teman karena terlalu ngoyo mencari uang, kini ketika teman-temanku mengeluhkan mahalnya pendidikan maka aku bisa berseloroh….”piye…penak caraku to…”

#Edi Padmono

Advertisements

10 thoughts on “Pekerja juga bisa bebas finansial

    • Sebenarnya saya ragu bang nulis dengan angka real seperti diatas. Tapi saya hanya berharap mudah mudahan ada keluarga muda atau yang hendak berkeluarga dapat mencontohnya bahwa biarpun gaji keci asal kita mempunyai perencanaan yang bagus dan konsisten pasti bisa mencapainya. Istilah orang dulu prihatin dulu lalu bahagia akhirnya.

  1. wah terencana sekali, saya juga biasanya suami yg lebih banyak merencanakan investasi ini itu, kalo saya takut megang uang besar jadi cukup ngurus keperluan anak2

  2. Waah, masih diingat angka-angkanya, ya Pak Edi.
    Memang sebaiknya kepala keluarga memiliki visi seperti yang Pak Edi punyai, ya. Apalagi kalau istrinya pun pandai berhemat, insya Allah bisa sejahtera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s