Pakaian Lebaran

Kalau berfikir mengenai baju lebaran, aku termasuk di bilang ngenes sekali dengan hal yang satu ini. Pakaian untuk hari hari saja sejak kecil selalu pakaian warisan dari sepupu yang tinggal dikota atau bekas kakak-kakak kandungku. Aku sih tidak tahu dengan masa-masa balitaku karena aku tidak bisa mengingatnya apakah aku mendapatkan pakaian baru atau tidak. Terkhusus untuk baju lebaran sejauh aku mengingat selama aku menjadi anak-anak baru sekali merengek semingguan meminta ibu untuk dibelikan baju lebaran yang mana akhirnya ibu membelikanku baju wulu(sewu telu/ beli seribu dapat 3 baju). Kalau aku tidak salah ingat waktu itu adalah kelas 4 SD dan sampai sekarang peristiwa itu merupakan peristiwa yang menyenangkan bagiku sebagai anak namun merupakan penyesalan dan merasa berdosa kepada ibu di masa sekarang ini karena setelah dewasa aku baru menyadari kondisi orang tuaku yang memang benar-benar tidak ada untuk membelikan baju lebaran. Sesuatu yang pasti mengenai pakaian baru pada masa anak-anak sampai remaja ialah pada saat masuk SMP dan SMA aku mendapat baju baru yaitu baju seragam yang wajib beli ketika masuk kelas satu yang harus bertahan sampai kelas 3 dan itupun selalu membuatku selalu tertunda mendapatkan nomor ujian semester 1 karena hutang seragam.

Pada awal kuliah barulah aku kebingungan karena kuliah menggunakan pakaian bebas sopan dan aku pernah diusir pada waktu daftar ulang karena aku hanya mengenakan kaos tanpa kerah. Barulah saat itu ibuku kelabakan pinjam sana sini untuk membelikan beberapa setel pakaian untuk putra kesayangannya. Ketika aku bekerja,  aku mendapatkan 3 setel pakaian seragam berupa celana jins, kemeja dan kaos serta sepasang sepatu safety masing-masing untuk 6 bulan. Karena aku bukan tipe orang yang suka jalan-jalan, maka sehari-hari selain bekerja aku hanya mengenakan pakaian yang aku miliki sejak kuliah dulu di tambah kaos dan celana jins seragam. Pada awal bekerja aku memang mendapatkan pekerjaan  pada perusahaan distributor alat berat yang ternama dan cukup bagus sistemnya. Ketika lebaran tiba, aku bekerja belum sampai 6 bulan dan setatusnya masih training namun perusahaanku tetap memberikan THR secara penuh sebesar 1 bulan gaji. Karena aku sudah terbiasa dengan pakaian seadanya, walaupun aku mempunyai gaji dan mendapat THR akupun tidak membeli baju lebaran untuk diriku sendiri. Aku hanya pulang kampung itupun tanpa oleh-oleh tapi sesampainya di kampung aku membelikan ibu dan bibiku yang janda sebuah perhiasan emas hanya saja aku lupa waktu itu membelikan giwang atau cicin.

Kemudian aku menikah dan terkena PHK yang kemudian menjadai pedagang asongan di bus kota. Boro-boro membeli baju, untuk makan sehari hari saja pas-pasan. Selain mengasong setiap seminggu sekali aku dan istri juga suka mengambil seprei dan pakaian pada sebuah home industri untuk kami jual dari pintu ke pintu kontrakan. Pada saat menjelang lebaran tentu pihak produsen mengeluarkan produk baju muslim saat itulah oleh istri aku diberi sebuah baju koko dagangannya, baju koko warna telur bebek polos seharga 25 ribu yang sampai saat ini setelah 16 tahun tetap setia menemi sholatku ketika berada di luar kota. Pada saat menjadi pengangguran, pakain sehari hariku adalah pakaian bekas waktu kerja dulu yaitu celana jins dan kaos. Kemudian aku mendapatkan pekerjaan dengan jenis perusahaan yang sama dengan yang sebelumnya. Perusahaan juga memberikan pakaian seragan berupa 3 celana jins, kemeja dan kaos serta sepasang sepatu safety untuk 6 bulan. Dari jatah pakaian seragam itu biasanya aku hanya menggunakan 2 stel untuk bekerja dan satu stel untuk hari hari di rumah dengan membuang logo perusahaan yang menempel di pakaian tersebut. Walaupun aku seorang mekanik yang tentunya berkecimpung dengan pekerjaan kotor seperti oli dan solar, aku selalu hati-hati dalam bekerja sehingga pakaian kerjaku tetap bersih dan awet sehingga jatah pakaian 6 bulan berikutnya bisa aku pakai di rumah dan aku tidak perlu beli pakaian lagi.

Selama aku bekerja di perusahaan tersebut, jika lebaran aku hanya membelikan pakaian untuk istri dan anak-anaku. Aku tetap keren dengan pakaian baru (seragam perusahaan ) yang aku simpan dan sudah aku buang logonya. Pakaian-pakaian itu tetap setia menemani hari-hariku sampai setahun setelah aku pindah ke perusahaan baru. Jika waktu sebagai mekanik aku banyak bergerak sehinga berat badanku setabil, pada perusahaan yang baru aku bekerja sebagai operator pabrik yang bertugas duduk di depan panel sehingga berat badanku terus bertambah karena kekurangan gerak. Pakaian kerjaku adalah baju monyet yaitu baju terusan dari celana nyambung dengan bajunya sehingga tidak mungkin aku simpan untuk hari hari di rumah, sementara pakaian dari perusahaan lama sudah tidak muat sehingga terpaksa aku harus membeli baju untuk sehari-hari di rumah. Tapi semenjak itu setiap lebaran aku juga tidak pernah pergi ke mall untuk membeli pakaian untuku, istri dan anak-anaku. Semua langsung tersedia dua minggu sebelum lebaran, akan tetapi pakaian-pakaian itu juga tidak geratis karena biasanya istri langsung memberikan nota harga kepadaku. Begitulah kalau punya istri tukang jualan baju…….suaminya sendiri juga suruh bayar…….  😀

#Edi Padmono

Advertisements

5 thoughts on “Pakaian Lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s